Home Site Map Bookmark Login
Tentang KamiFacilitator Resource GroupOrganisasi Masyarakat Sipile-LibraryProduk KamiEvent Calendar
Kembali ke Halaman Awal
 
 
Peran Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dalam membuka ruang partisipasi rakyat merupakan konstibusi konkrit OMS dalam upaya membangun Aceh masa depan. Namun demikian kontribusi tersebut belum cukup optimal dan efektif, karena secara umum OMS di Aceh masih menghadapi berbagai kelemahan bik di tingkat individu aktivis/SDM maupun kelemahan organisasional. Secara individual, keterampilan khusus para aktivis masih perlu ditingkatkan terutama yang berkaitan dengan kemampuan analisis, pengorganisasian rakyat, advokasi serta kemampuan manajerial. Secara organisasional, diketemukan kelemahan membangun kerjasama dengan konstituen serta pihak lain dalam memperkuat gerakan rakyat (level institusional). Karenanya perlu peningkatan kapasitas dalam membangun dan mengembangkan organisasinya sebagai organisasi belajar sehingga senantiasa akan dapat mengembangkan dirinya sesuai konteks yang dihadapi.

Pada sisi lain, dinamika dan perkembangan situasi Aceh berlangsung sangat cepat dan membutuhkan respon berbagai pihak termasuk OMS dengan langkah-langkah yang lebih sisematik dan berkelanjutan. Hal ini mengisyaratkan perlunya OMS di Aceh memikirkan dan merencanakan secara lebih sistematis menyangkat keberlanjutan sumberdaya organisasinya. Penguatan kapasitas organisasi dan kelembagaan OMS termasuk di dalamnya menajemen keberlanjutan sumberdaya sesungguhnya menjadi permasalahan mendesak yang harus diatasi. Proses penguatan kapasitas organisasi dan kelembagaan OMS merupakan proses yang berkelanjutan dan perlu direncanakan secara sistematis dengan memperlihatkan konteksnya (realitas sosial, ekonomi dan politik) di wilayah kerja OMS.

Dilandasi keinginan berperan lebih nyata dalam membangun OMS yang kuat, solid dan tangguh, beberapa aktivis, umumnya para pimpinan OMS yang memiliki cukup pengalaman sebagai fasilitator berinisiatif melakukan serangkaian pertemuan dan diskusi yang intensif. Pertemuan tersebut menghasilkan gagasan tentang perlunya pembentukan sebuah wadah berhimpun. Pada 5 Februari 2003 para aktivis akhirnya bersepakat membentuk perkumpulan dengan nama IMPACT. Organisasi ini menempatkan posisinya sebagai pemberi layanan fasilitasi (service provider) dalam membangun kapasitas organisasi.